Mencintai Orang Miskin Bukan Hanya Memberi Tetapi Juga Menjaga Perasaannya


Mencintai Orang Miskin

Dulu 15 tahu lalu,  pernah ada kejadian. Ketika saya sedang tidak ada di rumah, istri saya memberi pinjaman uang kepada tentangga. Sebetulnya jarak rumahnya jauh denga rumah kami. Mereka tinggal di belakang komplek. Alasannya karena suaminya belum pulang dari luar kota. Nanti setelah suaminya pulang, hutang itu akan digantinya. Tetangga itu menyerahkan tabung gasnya sebagai jaminan. Sebetulnya istri saya tidak meminta jaminan. Tapi tetangga itu tetap maksa agar tabung gas itu dijadikan jaminan. 

Sekian lama kemudian, suami tetangga itu pulang. Dia datangi rumah saya dengan marah marah kepada istri saya. Kebetulan saya sedang di rumah pagi itu.  Saya dengar dengan seksama alasan suaminya marah. Dan istri saya sampai menangis menahan emosi. Karena dia tidak bersalah dan dia memberi pinjaman itu ikhlas. Tidak ada maksud seperti tuduhan suami tetangga itu yang menilai istri saya rentenir dan zolim.

Saya sampaikan maaf saya kepada suami tetangga itu. Dan apapun keputusan istri saya, itu adalah tanggung jawab saya. " Kembalikan uang saya, ambil tabung gas itu. Engga usah ajarin saya soal agama segala. Karena faktanya ketika istri kamu kesusahan , dia datang ke saya, bukan kekeluarga kamu atau teman pengajian kamu. " kira kira seperti itu kata istri saya.Dan saya hanya mendiamkan keadaan agar tidak bertambah ribut. 

Suami tetangga itu meninggalkan rumah saya tanpa mengucapkan salam. Setelah mereka keluar rumah, saya menatap istri saya. "Apabila kita tidur dalam keadaan perut kenyang, sementara ada tetangga yang harus menahan lapar karena belum makan, maka andaikan paginya kita tidak lagi bangun karena ajal sampai, maka kita mati dalam keadaan tidak beriman. Jadi kalau besok ada tetangga berhutang untuk makan, beri saja dan lupakann. Jangan lupa tersenyum.” 

Kemudian, saya pergi ke gudang, saya gotong sendiri Tabung gas itu kerumah tetangga. Istri saya protes “  mengapa abang harus antar tabung gas itu kerumah mereka. Kalau mereka mau ambil, silahkan ambil sendiri.” Masih dengan nada emosi. 

“ Agar dia tidak merasa tergadaikan hidupnya karen]a hutang itu. Ingat berhutang untuk makan itu sangat berat bagi orang yang sudah berkeluarga. Sekali kamu rendahkan dia, maka kamu berperang dengan Allah. Jangan sampai rezeki yang Tuhan beri malah jadi sumber kutukan terhadap kita. Kamu tanggung jawab saya dan saya harus pastikan kamu di jalan Tuhan, kalau engga maka saya yang harus bertanggung jawab dihadapan Tuhan nanti..” Kata saya. Namun istri tetap protes. Saya tidak peduli, saya terus melangkah keluar rumah sambil membawa tabung gas utuk diantar kerumah tetangga itu.

Sampai di rumah tetangga itu,  saya serahkan tabung gas itu dan mengikhlaskan uang yang mereka pinjam. Dengan sepenuh hati saya mohon agar saya dan istri dimaafkan. Jangan lagi dipermasalahkan soal ini. Suami tetangga itu merangkul saya dengan air mata berlinang. " Saya sadar tadi saya berbuat salah. Tidak seharusnya saya marah marah ke pada istri bapak. Apalagi setelah saya tahu , hutang itu tanpa bunga dan tidak ada jadwal kapan harus dikembalikan. Dan bapak bisa memaklumi sikap saya, dan kini bapak selamatkan kehormatan saya dengan mengantar sendiri tabung gas kerumah saya, dan mengikhlaskan hutang itu. “ Katanya.  Saya senang karena keadaan bisa damai kembali. Kepada istri, saya katakan,' Jangan ulang lagi kejadiaan ini"

Saya tahu istri saya salah. Tetapi jauh lebih salah apabila saya tidak mau minta maaf kepada tetangga itu. Mencintai oran miskin bukan hanya memberi tetapi juga  menjaga perasaannya. Engga mudah memang. Tetapi itulah cobaan manakala kita diberi kelebihan rezeki oleh Tuhan.



oleh : Erizeli J. Bandaro
sumber : bukuerizelibandaro.blogspot.com

0 Response to "Mencintai Orang Miskin Bukan Hanya Memberi Tetapi Juga Menjaga Perasaannya"

Post a Comment