Tetap Berpuasa Meski Tak Makan Saat Sahur, Kakek Ini Tetap Berjualan


Beberapa kali saya temui kakek ini, bahkan beberapa kali pula saya mencari keberadaan beliau. Beliau kakek tua yang giat mengais rezeki, tak peduli tubuh renta, tak peduli sengatan matahari. Sebenarnya Ulfa bukan kali pertama melihat kakek tersebut. Beberapa kali ia berjumpa, hanya baru ini dirinya berkesempatan untuk mendengar kisah hidup yang diceritakan kakek ini.

Berjalan pagi dari rumah membawa gerobak kecil miliknya yang berisi “bola kecil dan abu gosok”. Fikir saya saat tahu pertama kali apa yang beliau jual “jaman sudah se-modern ini sudah jarang sekali yang menggunakan abu gosok”.

Namun, beliau tidak menyerah. Tidak menjadikan ke-rentaannya untuk meminta belas kasih seseorang. Itu yang saya patut acungi jempol.

Pagi ini, ketika ingin berangkat ke kampus. Saya bertemu kakek ini sedang duduk di pinggir jalan dengan lemahnya.

Sontak saya berhenti, berniat membeli se-plastik abu gosok untuk membantunya. Sebab jika saya hanya memberinya uang, saya takut beliau tersinggung.

“Pak, beli abu gosoknya ya” berkali2 saya berkata, beliau hanya terdiam. Ternyata, pendengaran beliau terganggu. Saya mengencangkan suara dan beliau akhirnya mendengar.

Dengan tergopoh-gopoh untuk berdiri beliau menyiapkan abu gosok pesanan saya.

“Tidak usah banyak-banyak pak, berapa harganya?”

“3000 ribu neng”

Saya terdiam, untuk seplastik abu gosok beliau hanya menjual 3000 rupiah. Benar2 nominal yang tidak ada apa-apanya untuk jaman sekarang.

Saya pun membayarnya, memberi dengan lebih berniat bukan untuk menganggapnya peminta-minta tapi karena simpati saya sebagai manusia (bukan untuk riya hanya berbagi kisah).

Setelah saya bayar, begitu banyak doa yang beliau layangkan untuk saya sambil mencoba duduk kembali.

Karena memang sudah lama sekali saya mencari kakek ini, moment ini pun saya gunakan untuk sedikit bertanya tentang kehidupannya.

“Bapak tinggal dimana?”

“Deket, di deket bengkel las daerah pisangan”
(Saya menyimak)

“Saya tinggal numpang sama orang, anak saya tinggal di cikarang. Perut saya sakit neng, selama puasa gak pernah makan karena gak ada apa-apa dirumah. Saur sama buka cuma pake air putih aja”

Suaranya terdengar parau menahan tangis.

“Bapak kenapa gak istirahat aja? Gak usah puasa aja pak.”

Beliau hanya tersenyum. Dan berkata “maaf ya neng, saya gak bisa ngobrol banyak. Perut saya sakit kalo banyak ngobrol”

“Oh iyaa pak, saya pamit ya pak”

Saya merasa terharu ketika mendengar alasan sang kakek yang tetap berpuasa meski tak makan saat sahur dan berbuka. Bahkan, kakek penjual abu gosok itu tak mampu berbicara banyak karena perutnya yang sakit. Tangis saya tertahan, saya merasa tertampar pagi ini. Beliau sudah se-tua itu, masih sanggup berpuasa. Masih sanggup bekerja.

Saya yang se-muda ini, masih sering mengeluh, masih sering menyepelekan makanan sedangkan kakek tersebut, untuk makan pun susah.

Dari tulisan ini, Saya bermaksud mengajak teman2 semua utk membantu beliau terkhusus mahasiswa/i UIN Jakarta karena posisi beliau yang dekat dengan kampus dan seluruh warga tangerang selatan.

Jika kalian temui kakek ini, berhentilah sejenak. Belilah abu gosoknya yang seharga 3000 rupiah atau bola kecil yang seharga 5000 rupiah.

Pak, semoga hari ini Allah memberimu rezeki yang berlimpah dan semoga ibadah puasamu beberapa hari ini di terima oleh Allah.


dibagikan oleh @berbagisemangat
diambil dari Media Inspirasi Motivasi dan Edukasi

0 Response to "Tetap Berpuasa Meski Tak Makan Saat Sahur, Kakek Ini Tetap Berjualan"

Post a Comment