Cinta Sejati Rasulallah Hanya Untuk Siti Khadijah


Cinta Sejati Rasulallah

Khadijah adalah putri Khuwaylid bin As’ad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Khadijah dilahirkan di rumah yang penuh kasih sayang pada tahun 68 sebelum Hijriah. Khadijah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terhormat dan menjadi wanita cerdas, teguh, dan berperangai luhur. Karena itulah banyak lelaki dari kaumnya yang menaruh simpati padanya. 

Nasab dari jalur ayah Khadijah bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya yang bernama Qushay. Khadijah berasal dari klan Asad, yang saat itu jauh lebih berpengaruh dari klan Nabi Muhammad, bani Hasyim.

Sebelum menikahi Muhammad, Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pernikahan itu membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun. Tak lama kemudian suaminya meninggal dunia, dengan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas. 

Lalu Khadijah menikah lagi untuk yang kedua dengan Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi. Setelah pernikahan itu berjalan beberapa waktu, suami keduanya pun meninggal dunia, yang juga meninggalkan harta dan perniagaan. Khadijah kemudian menjadi seorang pedagang yang sangat sukses.


Cinta Sejati Sang Nabi

Muhammad al-Ghazali dalam Sejarah Perjalanan hidup Muhammad (2003) menyebut, lama setelah kematian Khadijah, Muhammad akan memuliakan istri pertamanya itu jauh di atas istri-istri yang lebih belakangan. Nabi menyatakan bahwa dirinya tidak akan pernah menemukan cinta seperti itu lagi. 

Bagaimana dia bisa demikian, ketika dirinya sudah menjadi pemimpin agama baru yang tengah berkembang pesat—nabi yang dihormati, utusan Allah SWT—semua orang berebut mendekati dirinya, berebut didengarkan olehnya? 

Khadijah mencintai Muhammad karena sosok Muhammad saat dia pertama kali mengenalnya, bukan karena sosok Muhammad di masa mendatang. Dan Muhammad tidak akan pernah melupakan Khadijah di tahun-tahun belakangan itu. Dia berubah pucat oleh dukacita saat mendengar suara apa pun yang mengingatkan dirinya kepada sang istri (hlm. 78).

Menurut Lesley Hazleton dalam The First Muslim: The Story of Muhammad (2013), pasangan ini memiliki empat putri: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah; dan dua orang putra: Qasim dan ‘Abdullah. Namun, kedua putra mereka ini meninggal dunia ketika bayi (hlm. 79). 

Meski wahyu Alquran kelak akan menegaskan keutamaan anak-anak perempuan, dengan mengecam mereka yang mengukur kekayaan dan status hanya dengan keberadaan anak laki-laki, kehilangan kedua putra pastilah menimbulkan kepedihan yang mendalam. Itu berarti bahwa Muhammad akan tetap menjadi apa yang disebut sebagai abtar, secara harfiah berarti yang terpotong, terpenggal, atau terputus. Yakni, tanpa keturunan laki-laki.

Dukacita kematian Qasim (dan kemudian ‘Abdullah) hingga derajat tertentu akan diredakan bocah lelaki yang sudah dekat dengan rumah tangga mereka. Khadijah telah memberi Muhammad seorang budak muda bernama Zayd bin Haritsah sebagai hadiah pernikahan, tetapi Muhammad memperlakukan budak itu lebih sebagai anak daripada sebagai budak. Nabi menyiapkan landasan bagi perintah Alquran kelak untuk membebaskan budak. 

Juga ada anak kecil lainnya: sepupu Muhammad, Ali, putra bungsu Abu Thalib. Meski Muhammad dan Khadijah tidak secara resmi mengadopsi Ali, mereka menganggapnya bagian dari keluarga mereka sendiri. Bahkan pada akhirnya, Ali akan menikahi putri bungsu mereka, Fatimah (hlm. 80).


Menjalani Kehidupan Bersahaja

Muhammad sekeluarga hidup sangat sederhana. Kediamannya tidak berisi perabotan. Dia seringkali tidak memiliki apa-apa selain beberapa butir kurma. Dalam usia tiga puluhan, tampaknya Muhammad menjadi lelaki yang bahagia. Dengan Khadijah di sisinya, rasa hormat dari orang lain, dan kehidupan yang nyaman, dia tampak memiliki segalanya yang diinginkan seorang lelaki. 

Meski pelbagai rintangan telah mengadangnya, dia berhasil meraih kemajuan pesat. Dan melalui Waraqah bin Nawfal, sepupu Khadijah, mereka menemukan kerangka nilai-nilai mereka dalam sekelompok kecil pemikir independen Mekkah yang masyhur sebagai para hanif.

Menurut Tariq Ramadan dalam In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad (2007), pada usia 40, ketika Muhammad menerima wahyu perdana, istrinyalah yang segera menjadi tumpuannya. Khadijah adalah orang pertama yang mendampingi dan menenangkannya. Bertahun-tahun sebelumnya, ia menyaksikan seorang laki-laki yang kemuliaan moralnya sangat menonjol. Ketika lelaki itu kembali dari gua dan menemuinya dalam kondisi cemas dan tertekan oleh keraguan mendalam tentang siapa dirinya dan apa yang sedang menimpanya, Khadijah segera menyelimutinya dengan sepenuh cinta, mengingatkan kembali kepercayaan dirinya (hlm. 73).

Wahyu pertama merupakan anugerah sekaligus ujian berat bagi seseorang yang tidak lagi bisa membedakan apakah dirinya kerasukan jin atau menjadi mangsa halusinasi setan. Muhammad sendirian dan kebingungan. Ia menemui sang istri yang segera memberinya ketenangan dan dukungan. Sejak saat itulah keduanya mulai menghadapi cobaan, berupaya memahami maknanya dan lantas, setelah kevakuman wahyu terakhir, menjawab panggilan Tuhan dan mengikuti jalan inisiasi spiritual.

Dalam hal ini, Khadijah merupakan tanda kehadiran Tuhan dalam pergumulan spiritual Nabi Muhammad. Ia bisa disejajarkan dengan Ismail dan Hajar dalam pergulatan keimanan Ibrahim. Kedua perempuan dan anak laki-laki itu merupakan tanda dari Yang Maha Esa untuk menegaskan keberadaan-Nya dan dukungan-Nya dalam perjuangan keimanan mereka, sehingga mereka tidak boleh meragukan-Nya sedikit pun.

Khadijah binti Khuwaylid meninggal dunia dalam usia 65 pada 10 Ramadan tahun ke-10 kenabian, tepatnya tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah atau 619 Masehi. Ketika itu, Nabi Muhammad berusia sekitar 50. Khadijah dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan al-Hajun. 

Wafatnya Khadijah menyebabkan kesedihan dalam diri Rasulullah karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib) telah meninggal di tahun yang sama. Dalam sejarah Islam, tahun itu disebut sebagai ‘aamul huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Nabi Muhammad.

Menurut Karen Armstrong dalam Muhammad: Prophet for Our Time (2006), Khadijah menjadi orang pertama yang menerima Islam, dan selama sepuluh tahun pertama misi kenabian Muhammad, ia menjadi teman setia yang selalu mendampinginya. Peran perempuan ini dalam kehidupan Muhammad sangatlah besar. Selama dua puluh empat tahun, ia adalah istri satu-satunya, yang memberi perlindungan bagi Nabi dan turut menanggung penolakan dari sanak saudaranya, penganiayaan, dan pengucilan (hlm. 58-59).

Arkian, Aisyah—yang belakangan menikah dengan Nabi—pernah mengakui bahwa Khadijah adalah satu-satunya perempuan yang membuatnya cemburu. Khadijah menerima kabar baik tentang keterpilihan Muhammad menjadi Utusan Allah. Ia mandiri, terhormat, dan dihargai, kemudian menjadi istri yang tangguh, penuh perhatian, setia, dan percaya diri. Ia juga Muslimah yang saleh, jujur, teguh, dan tahan uji. 

Muhammad, sang Nabi Terakhir, tidaklah sendirian. Dan salah satu tanda paling gamblang perihal limpahan rahmat dan kecintaan Tuhan kepadanya adalah kehadiran seorang perempuan dalam hidupnya, karunia yang maujud dalam prosa sekaligus puisi: Khadijah.


Penulis: Muhammad Iqbal
Editor: Ivan Aulia Ahsan
sumber: tirto.id - Humaniora

0 Response to "Cinta Sejati Rasulallah Hanya Untuk Siti Khadijah"

Post a Comment